Senin, 18 Januari 2016

Perlukah Senyum, Salam, dan Sapa? PART 2

Interaksi Sosial

Menurut peneliti sosial Wahyu Kustiningsih, bahwa 3S diperlukan untuk memperat hubungan sosial. Agar tercipta lingkungan masyarakat yang harmonis, maka 3S perlu diterapkan. Namun, tidak perlu ngoyo dalam mewujudkan 3S. 3S akan tercipta dengan sendirinya ketika tidak ada prasangka negatif dari seseorang. Setidaknya tujuan dari 3S dapat mencegah dan memperkecil konflik sosial yang bersifat kekerasan. “Konflik memang diperlukan sebab hal terebut menunjukkan bahwa masyarakat bergerak dinamis, tetapi apabila mengarah pada kekerasan, maka perlu dihindari” ujarnya.

Baginya, 3S merupakan awal strategi dalam berinteraksi antar individu. Bermula dari interaksi dan pertukaran antar sesama, maka akan tercipta jejaring sosial. Jejaring sosial ini merupakan modal dalam kehidupan sosial di masyarakat.
Serupa dengan Wahyu, Warsino M.Pd, selaku pendidik menjelaskan bahwa 3S merupakan salah satu bentuk interaksi sosial seseorang ketika berjumpa dengan orang lain. 3S juga merupakan nilai universal sebagai bentuk perwujudan bahwa manusia itu sama atau sederajad. “3S diperlukan dalam rangka hablu minannas atau menciptakan hubungan baik sesama manusia,” tuturnya.

Dalam pemaparannya diungkapkan bahwa 3S sangat perlu diterapkan dalam kehidupan dalam rangka menebar kedamaian dengan sesama manusia, 3S perlu dibudayakan supaya menjadi bagian dari “karakter baik” manusia, sehingga kapanpun, dimanapun, dan dengan siapapun karakter itu telah menjadi kebiasaan yang enjoy untuk dilaksanakan, bukan sekedar kamuflase yang mudah berubah menurut situasi dan kondisi tertentu.

Penerapan 3S dulu dengan sekarang memang tampak berbeda. Semakin modern, semakin terkikis budaya 3S. Bisa jadi hal ini karena kurangnya pendidikan budi pekerti di tingkat keluarga. Orang tua terlalu sibuk sehingga tidak terlalu peduli dengan nilai budi pekerti. Cara membudayakan kembali melalui sektor pendidikan, baik pendidikan formal, nonformal  maupun dalam keluarga. “Hal yang utama dalam menanamkan sikap 3S pada anak adalah dengan memberikan teladan kepada mereka, sambil dipahamkan apa untung dan manfaatnya,” terangnya.


Warsono juga menandaskan bahwa 3S semestinya ditanamkan kepada setiap insan sedini mungkin, kalau mahasiswa sekarang dikatakan 3S-nya mulai luntur berarti ada yang error  pada pendidikan kita, oleh karena itu pendidikan kita perlu dibenahi. Tidak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan dan mulailah kebaikan itu dari diri sendiri.

Sosok yang mengaku terinspirasi dari  tayangan ‘Mario Teguh Golden Ways’ pun mengutip satu tagline “Jadilah mahasiswa yang cerdas sosial dengan mengimplementasikan 3S sebagai wahana berinteraksi dengan orang lain. Dengan 3S interaksi sosial akan berlangsung lebih nyaman, lebih mudah membuat jaringan baru dan 3S merupakan salah satu aspek kecerdasan sosial yang berpengaruh positif pada prestasi,” tutupnya. (Tim UIN Suka)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar